Wednesday, 9 March 2016

Cerita Cinta, dan Persahabatan di Apartemen Baru

  Pembukaan.
 
  Dani adalah seorang pemuda yang baru saja pindah kesebuah apartemen baru didaerah perkotaan, ia pindah karena ia tidak mendapatkan kedamaian dikediaman lamanya. Hal itu disebabkan oleh tetangganya yang suka bertengkar dan ribut saat ia tertidur. Walau ia mencoba untuk bersabar tetapi kesabaran seseorang bisa habis suatu saat, pada akhirnya ia memutuskan untuk pindah keluar kota. Tetapi ia tetap berpikiran bahwa kehidupan ditempat tinggal barunya malah akan membuatnya kerepotan, Dani adalah tipe orang yang tidak suka dengan hal-hal yang merepotkan. Karena ia tak mempunyai pilihan lain ia tetap pindah keluar kota untuk mencari kehidupan baru. Disamping mencari kehidupan baru ia juga berharap agar ia bisa menemukan seorang wanita yang akan memikat hatinya.
   Kehidupan Dani yang baru dimulai pada suatu malam yang dipenuhi dengan hujan lebat dan petir yang menyambar dengan keras, sungguh sebuah malam yang mengerikan untuk memulai kehidupan ditempat lain. Ia turun dari taksi lalu ia membayar ongkos taksi itu sebesar 50.000 dan saat ia ingin menaiki tangga apartemen itu pengemudi taksi itu berkata “hei uangnya kurang! Semuanya 60.000!” Dani terdiam sejenak sambil merogok sakunya, tetapi ia tak menemukan uang didalam sakunya dan juga dompetnya. Karena ia tak mempunyai sebuah pilihan ia hendak pergi meninggalkan pengemudi taksi itu, tetapi ia sadar bahwa lari dari kenyataan takkan mengubah apapun “maaf, uang saya habis...” kemudian supir taksi itu menjawab “lain kali bawalah uang pas!” kata supir taksi itu dengan marah, ia meninggalkan Dani didepan apartemen itu. Setelah supir taksi itu pergi Dani mengangkat barang bawaannya keruang administrasi, ia melewati lorong tua yang gelap disana ia merasakan hal-hal aneh yang mengerikan tetapi ia tetap melangkahkan kakinya menuju keruang administrasi. Dani berkata “apartemen ini aneh, aku harap apartemen itu bukanlah apartemen yang berhatu.” Ia sampai diruang administrasi lalu ia memanggil petugas administrasi yang berada disana.
   “Halo?! Apa ada orang disini? Aku ingin mendapatkan kunci untuk kamar 05, namaku Dani” kata Dani.
   Sebuah suara seorang wanita terdengar “iya? Tunggu sebentar ya?”
   Seorang wanita datang menjumpainya, ia mempunyai rambut berwarna kuning. Melihat wanita itu menjumpainya lalu memberikan kunci kamarnya Dani terdiam sejenak lalu ia memikirkan suatu hal yang lain. Tindakan Dani membuat wanita itu kebingungan sekaligus ketakutan saat menghadapinya.
  “Permisi ini kunci kamarmu” kata wanita itu.
  Dani membalas “Eh... iya baiklah eh...”
  Wanita itu memperkanalkan dirinya “namaku Dinda... senang bertemu denganmu” ia tersenyum pada Dani.
   Secara tidak sengaja Dani juga ikut tersenyum bersamanya, “apa ada yang salah?” tanya Dinda. “Ti-tidak, tidak ada... baiklah aku akan pergi kekamarku”  jawab Dani sambil mengangkat barang bawaannya menuju kekamar nomor 05. Setelah ia sampai didalam ia menyalakan televisi lalu mengangkat telepon yang berdering didalam kamarnya “halo?” ia heran bagaimana bisa telepon yang berada didalam apartemen bisa berdering dengan sendirinya. “Ini aku Vero, jika kau ingin menghubungi penghuni kamar lain dengan telepon yang ada dikamarmu tekan saja nomor 0567 lalu dua digit berikutnya lanjutkan saja dengan nomor kamarnya” wanita lain yang tidak ia kenal berbicara dengan nada datar dan tanpa ekspresi padanya. Ia mencatat nomor kamar “0567-nomor kamar” setelah ia selesai mencatat ia tertidur sejenak untuk menghilangkan rasa capek. Kehidupan Dani ditempat tinggal barunya akan dimulai, dan sebuah cerita yang tidak terduga akan terjadi padanya.

Chapter 1: Pekerjaan Baru, Gadis Aneh, dan Teman-teman Baru
  Dani terbangun dari tidurnya lalu ia melihat jam dinding dikamarnya, rupanya ia bangun pukul 03.30 dan ia mendapatkan sebuah pesan suara dari kamar lain. “Hai tetangga baru, namaku Andika aku harap kita bisa menjadi teman baik! Ya ini mungkin aneh... seseorang menelponmu secara tiba-tiba, aku baru saja berbicara dengan Dinda dan dia memberitahuku bahwa kau baru saja pindah kesini dan dia juga bilang bahwa kau juga mempunyai sedikit masalah dengan tempat tinggal lamamu... sampai jumpa dikantin ya?” panggilan suara dari Andika berakhir. Sekali lagi Dani bertemu dengan orang yang tidak ia kenal. Ia memikirkan beberapa hal sejenak, ia ingin mendapat sebuah pekerjaan yang mapan lalu sebuah ide muncul dikepalanya. Ia memutuskan untuk bergabung dibagian administrasi bersama Dinda, disamping itu ia juga ingin berada didekat Dinda untuk beberapa lalu menyatakan cintanya. Saat ia sedang berimajinasi dengan liarnya tiba-tiba perutnya berbunyi, ia kelaparan karena makanan persediaan yang ia bawa tidak enak ia memutuskan untuk pergi kekantin.
  “Tapi apakah aku akan diterima ditempat itu ya?” tanya Dani pada dirinya sendiri.
  Sambil berjalan menuju kearah kantin dan mengikuti anak panah dengan petunjuk “kantin” ia memikirkan berbagai hal dan berimajinasi dengan liarnya “apakah... apakah ia mempunyai perasaan terhadapku? Ataukah ini hanya sebuah ilusi, sebuah mimpi disiang bolong? Aku tidak bisa menyimpulkan hal itu sekarang.”
  Akhirnya ia sampai dikantin, disanalah ia bertemu dengan tiga orang pria yang terlihat asik mengobrol, Dani mendekati mereka lalu ia berkata “bolehkah aku duduk disini?” kemudian salah seorang pria dengan rambut pendek, tebal, dan lurus bertanya “apakah kau Dani?” Dani terdiam sejenak. “Andika?” ia bertemu dengan orang yang telah meninggalkan pesan suara ditelepon kamarnya. Melihat orang yang pertama kali mengajaknya bicara ada didekatnya rasa malunya sedikit agak hilang. Ia duduk dikursi kosong yang ada dikantin lalu Andika memperkenalkan teman-teman mereka.
  Andika berkata “namanya Dani, ia baru pindah kemari... perkenalkan, mereka adalah teman-temanku, walau wajah mereka sedikit tidak beruntung” ia agak menyindir kedua temannya.
  Salah seorang teman Andika yang mempunyai tubuh agak kurus dengan wajah yang tampan dan terlihat ramah berkata “oh, awas ya! Lain kali kalau kau makan disini lagi takkan kuteraktir!”
  Mendengar perkataan temannya itu Andika berkata “baiklah, baik jangan seperti itu, perkanalkan nama temanku ini adalah Anto, dia adalah orang yang ramah dan juga pintar, harus kuakui dia mempunyai pikiran dan gerakan yang cepat, terutama jika ia berlari.”
  Dani menatap teman Andika yang masih belum ia perkenalkan, orang itu tinggi, besar, berkulit hitam, dan tatapan matanya menyeramkan tetapi wajahnya terlihat sangat menawan “siapa dia?” tanya Dani.
  Andika kemudian berkata “manusia hitam ini? Namanya Adit.”
  “Manusia hitam?” tanya Dani.
  “Sudahlah itu memang kenyataan...” jawab Adit dengan wajah yang cemberut. 
   Setelah berkenalan satu sama lain mereka bertiga memakan makanan mereka sementara Dani hanya terdiam memandangi gadis yang melamun didekat jendela. Rambut panjangnya yang berwarna putih berhasil menyita perhatian Dani untuk beberapa menit. Melamunnya Dani berhasil membuat Adit, Anto, dan Andika kebingungan, mereka mencoba untuk mencari tahu penyebab melamunnya Dani. Kemudian mereka menyadari bahwa Dani menatap gadis yang duduk didekat jendela itu dengan tatapan yang lekat. “Ada apa? Itu Vero, ia adalah gadis yang pendiam, ia seperti tak mempunyai ekspresi didalam dirinya” kata Anto. Dani terdiam sejenak memikirkan hal itu.
  “Apa yang ada didalam pikirannya?” tanya Dani.
  “Kedua orangtuanya menelantarkannya, entah karena apa” kata Andika.
  Adit menambahi “setahuku ia mempunyai sedikit gangguan kejiwaan, ia membutuhkan bantuan dalam beberapa hal.”
 “Hal seperti apa?” tanya Dani.
 Anto berkata “misalnya saja seperti merawatnya dan mematiskan dirinya tidak melakukan hal-hal yang akan melukai dirinya.”
 Adit menambahi “iya, orang yang berada dalam posisi sedang depresi memanglah orang yang sulit untuk ditebak, atau mengendalikan dirinya.”
 Karena ia merasa sudah kenyang dan ingin pergi kekamarnya Dani memberikan ucapan perpisahan lalu bersamaan dengan berdirinya Vero ia pergi meninggalkan kantin, Vero mengikutinya dengan berlari. “Apa yang gadis itu lakukan?!” tanya Andika, mereka bertiga merasa aneh dengan tingkah laku Vero yang mengejar Dani. Saat ia melewati lorong menuju kekamarnya ia mendengar suara hentakkan kaki yang semakin cepat, ia menoleh kebelakang lalu tiba-tiba Vero melompat dan menjatuhkannya. Untuk sesaat Dani terdiam menyaksikan hal itu, tetapi secepatnya ia sadar dan berteriak “apa yang kau lakukan?!” ia merasa tegang dan ketakutan.
  Anto, Andika, dan Adit melihat kejadian itu, mereka mencoba untuk memaklumi hal tersebut karena Vero adalah seorang gadis yang mempunyai kelainan mental. Mereka hanya mengira bahwa Vero hanya sedang berimajinasi. Seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi mereka kembali masuk kedalam kantin dan menghabiskan makanan mereka. “Apa yang salah dengan pemuda itu?” tanya Andika pada kedua temannya. Mereka bertiga langsung memperbincangkan masalah itu dengan serius.
  Sementara mereka bertiga sedang berbicara satu sama lain Dani mencoba untuk bertanya pada Vero tentang alasan dirinya menjatuhkan Dani.
 “Apa yang kau inginkan? Kenapa kau menjatuhkanku?!” tanya Dani
 Vero terdiam untuk sesat, hal itu membuat Dani merasa aneh dan bersalah “he-hei... tidak, maksudku adalah apa yang membuatmu menjatuhkanku? Apa kau terpeleset?” Dani menyadari bahwa Vero mempunyai kelainan.
 Vero menjawab “karena kau mempunyai bau yang berbeda dari lainnya... kau mempunyai aroma dan gaya yang berbeda itulah yang membuatku tertarik padamu.”
 Karena ia merasa aneh dan ketakutan dengan kata-kata Vero ia berkata “apa?! Apa sebenarnya dirimu?! Kanibal?! Penyuka sesama jenis?! Apa?! Apa yang terjadi?!” kata-kata Vero membuat Dani ketakutan.
 “Kau akan mengetahuinya sendiri...” Vero meninggalkan Dani yang masih terbaring diatas tanah.
 *Saat Dani telah kembali kekamarnya*
  Ia memakan roti yang berada didalam kulkas lalu membuka jendelanya, ia melihat Vero yang juga sedang membuka jendela kamarnya. Ternyata kamar mereka bersebelahan, Vero tersenyum lalu menyapanya. Sekali lagi, Dani ikut tersenyum tetapi kali ini tanpa alasan yang jelas. Entah karena senyuman Vero menarik atau karena ia melihat orang yang menderita akhirnya tersenyum padanya. Ia melambaikan tangannya tanpa sadar lalu ia berkata “kau sedang apa?” ia tersenyum lalu tertawa. Vero menunjukkan vas bunga yang menggantung dijendelanya lalu ia berkata “menyiram?” Dani menyadari bahwa kelainan mental Vero membuat kata-kata yang Vero ucapkan menjadi tidak beraturan.
 “Oh, kau sedang menyiram bunga? Vero, tentang kejadian yang tadi aku minta maaf ya?” kata Dani, ia menyebutkan nama Vero secara tidak sengaja.
 “Nama? Vero?” jawab Vero.
 Dani mencoba untuk mengartikan perkataan Vero lalu ia berkata “iya, orang-orang memberitahukanku tentang dirimu.”
 Vero menjawab “orang-orang? Jangan, langsung saja.”
  Dani mengetahui arti dari perkataan yang Vero ucapkan, yang Vero maksud adalah bahwa jika ia ingin tahu tentang kehidupan Vero ia harusnya menanyakan atau mencari tahunya langsung kepada Vero. Ia memahami apa yang Vero rasakan selama lebih dari setahun. Karena ia juga pernah berada diposisi yang sama, ia pindah karena ia bertujuan untuk menemukan pujaan hati dan juga rumah baru yang ideal untuknya. Ia hanya merasa aneh dengan perasaannya pada Vero, ia mencintai Dinda dan ia ingin mendapatkannya tetapi saat Vero menatapnya hatinya seakan-akan mengikuti mata Vero. Mata yang dipenuhi oleh derita dan juga kejujuran.Entah mengapa ia merasa bertanggung jawab tentang Vero.
  “Melamar pekerjaan sebagai petugas adiministrasi ditempat ini mungkin adalah hal yang baik” ujar Dani.
  Akhirnya Dani memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai petugas administrasi, ia pergi kekantor yang berada didekat pintu keluar lalu ia memikirkan beberapa hal. Pertama, ia datang keapartemen itu untuk memulai sebuah kehidupan yang baru dan mencari pekerjaan jadi ia akan memulai pekerjaan barunya sebagai petugas adiministrasi diapartemen itu. Kedua, selain datang untuk mencari pekerjaan ia juga ingin menemukan pujaan hatinya, tetapi hal itu masih menjadi sebuah pertanyaan bagi Dani. Ia merasa ada yang berbeda dengan Dinda, ia sadar bahwa ia menyukai Dinda tetapi ada sebuah perasaan yang muncul saat Vero bertemu dengannya. Saat ia mengetahui kebenaran tentang masa lalu Vero ia merasa iba dan tertarik dengan Vero, tetapi ia belum bisa mengetahui apakah itu cinta atau bukan. Beberapa hal yang ada dibenaknya terkadang bisa menjadi sangat liar, tetapi ia merasa bahwa hal itu diperlukan untuk mengatasi masalah yang akan muncul dimasa depan.
 “Eh Dani ada apa kemari?” Dinda menyapa.
 “Aku ingin melamar pekerjaan sebagai seorang petugas disini...” ujar Dani.
 Dinda duduk dikursi yang ada didalam ruangannya “apa kau yakin? Jarang sekali ada orang yang ingin melamar pekerjaan disini.”
 “Aku tahu, tetapi aku membutuhkan pekerjaan ini untuk suatu hal... ngomong-omong bolehkah aku bertanya?” kata Dani.
 “Tentu saja”
 Dani bertanya “apa kau mengenal seorang gadis bernama Vero? Apa yang terjadi padanya?” tiba-tiba sebuah pemikiran untuk menanyakan Vero muncul.
  Dinda terdiam setelah mendengar hal itu, ia menghela napas panjang. Dari cara Dinda menjawab pertanyaan Dani ia sudah tahu bahwa masa lalu Vero sangat pahit dan buruk sehingga Dinda terdiam saat ditanya mengenai masa lalu Vero. “Maaf jika aku mengatakannya padamu, aku hanya merasa...” Dani tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena ia merasa tidak enak dengan Dinda. “Jika aku mengatakannya padamu berjanjilah, berjanjilah untuk tidak menyakitinya” kata Dinda. Walau merasa tidak enak tetapi Dani menyetujuinya.
 “Vero dulu adalah seorang gadis remaja yang memilih untuk pindah keapartemen ini bersama kedua orangtuanya untuk mencari kehidupan baru yang damai dan tenteram, ia hampir sama sepertimu saat ia pertama kali datang disini” kata Dinda.
 Dani berkata “ia sepertiku?”
 “Iya, ia mudah sekali tersipu dan tersenyum jika melihat orang lain tersenyum...” kata Dinda.
 “Lalu apa yang terjadi?” tanya Dani.
  Dinda tidak ingin menceritakan kelanjutannya, ia mengubah topik pembicaraan ketopik yang lain. “Jadi, kapan kau mau memulai pekerjaan ini? Ada sebuah lowongan untukmu sebagai penjaga... pada bulan ini kami membutuhkanmu dimalam hari apa kau ingin memulainya malam ini?” tanya Dinda. “Tentu saja, lagipula pekerjaan sebagai penjaga apartemen ini tidak akan menjadi pekerjaan yang sulit kan?” kata Dani. Mendengar ucapannya Dinda tertawa lalu ia berkata “benarkah? Walau ada CCTV yang dipasang untuk mengawasi beberapa lorong dan juga beberapa tempat khusus, tetapi resiko menjadi enjaga ditempat ini sangatlah tinggi Dani.” “Heh benarkah itu?” tanya Dani.
  Dinda memberikan beberapa berkas dan juga keterangan mengenai apartemen itu kepada Dani “kau akan mengetahuinya saat kau sudah mulai bekerja... berkas-berkas ini akan membantumu, semoga beruntung Dani, kau akan membutuhkannya.” 


Saturday, 9 January 2016

cerita menemukan tas berisi Uang di bis kota

Cerita menemukan tas di bis kota perjalanan dari Malang ke Surabaya

       ceritanya begini...saat itu musim liburan sekolah Aku berangkat dari Malang pagi hari dengan menggunakan transportasi bis kota. Perjalan dari desa kemulan kecamatan Turen Malang... Aku harus naik Ojek dari desa Kemulan ke Turen, kemudian naik angkot dari Turen ke Gadang, lalu naik angkot lagi dari Gadang ke Terminal Arjosari, lantas dari Terminal Arjosari Mlang ke Surabaya naik bis kota. Disinilah kutemukan tas berisi Uang itu.
       Saat itu cuaca Kota Malang begitu dingin hingga ketika bis berangkat dari Malang menuju Kota Surabaya Aku tertidur setelah membayar ongkos angkutan bis kota. Penuhnya penumpang yang ada di bis kota tidak mengganggu acara tidurku, maklum musim liburan begini banyak wisatawan domestik yang melancong. Tidak terasa bis kota yang Aku tumpangi sudah sampai di kota Surabaya, itupun Aku dibangunkan oleh sopir bis yang turun terakhir kali untuk pergi makan diterminal. Aku terbangun dari tidurku untuk segera turun dari bis kota. begitu mau turun dari bangku bis kota yang Aku tumpangi, Aku terhalang oleh tas besar disebelah tempat dudukku. kemudian Aku menoleh kesegala penjuru mencari siapa gerangan pemilik tas ini, namun tak kutemukan seorang manusia pun didalam bis kota alias tinggal aku sendirian. Rasa penasaran dengan tas siapa ini, kemudian kubuka tas yang ada disebelahku tersebut. Begitu Kubuka Aku kembali kaget dengan isi tas tersebut ternyata tas itu berisi uang yang sangat banyak sekali. kembali kupastikan siapa pemilik tas tersebut ternyata memang benar-benar tidak ada identitas didalam tas tersebut. lalu kuputuskan untuk membawa tas berisi Uang tersebut. Begitu Aku turun dari bis kota ternyata tetap saja tidak ada yang mencari tas tersebut. Lalu Kuputuskan untuk pulang kerumah, beberapa langkah dari bis kota yang kutumpangi tersebut pundakku dipegang oleh orang sambil diguncang-guncang dengan agak keras sambil berteriak ," Ayo bangun ...hari sudah siang...Apakah Kamu tidak sekolah hari ini?" ujar Ibuku membangunkanku. Ternyata Aku baru saja bermimpi menemukan tas berisi Uang. Lalu Kuceritakan pada saudara-saudaraku mereka tertawa terbahak-bahak.