Pembukaan.
Dani adalah seorang pemuda yang baru saja pindah kesebuah apartemen baru didaerah perkotaan, ia pindah karena ia tidak mendapatkan kedamaian dikediaman lamanya. Hal itu disebabkan oleh tetangganya yang suka bertengkar dan ribut saat ia tertidur. Walau ia mencoba untuk bersabar tetapi kesabaran seseorang bisa habis suatu saat, pada akhirnya ia memutuskan untuk pindah keluar kota. Tetapi ia tetap berpikiran bahwa kehidupan ditempat tinggal barunya malah akan membuatnya kerepotan, Dani adalah tipe orang yang tidak suka dengan hal-hal yang merepotkan. Karena ia tak mempunyai pilihan lain ia tetap pindah keluar kota untuk mencari kehidupan baru. Disamping mencari kehidupan baru ia juga berharap agar ia bisa menemukan seorang wanita yang akan memikat hatinya.
Kehidupan Dani yang baru dimulai pada suatu malam yang dipenuhi dengan hujan lebat dan petir yang menyambar dengan keras, sungguh sebuah malam yang mengerikan untuk memulai kehidupan ditempat lain. Ia turun dari taksi lalu ia membayar ongkos taksi itu sebesar 50.000 dan saat ia ingin menaiki tangga apartemen itu pengemudi taksi itu berkata “hei uangnya kurang! Semuanya 60.000!” Dani terdiam sejenak sambil merogok sakunya, tetapi ia tak menemukan uang didalam sakunya dan juga dompetnya. Karena ia tak mempunyai sebuah pilihan ia hendak pergi meninggalkan pengemudi taksi itu, tetapi ia sadar bahwa lari dari kenyataan takkan mengubah apapun “maaf, uang saya habis...” kemudian supir taksi itu menjawab “lain kali bawalah uang pas!” kata supir taksi itu dengan marah, ia meninggalkan Dani didepan apartemen itu. Setelah supir taksi itu pergi Dani mengangkat barang bawaannya keruang administrasi, ia melewati lorong tua yang gelap disana ia merasakan hal-hal aneh yang mengerikan tetapi ia tetap melangkahkan kakinya menuju keruang administrasi. Dani berkata “apartemen ini aneh, aku harap apartemen itu bukanlah apartemen yang berhatu.” Ia sampai diruang administrasi lalu ia memanggil petugas administrasi yang berada disana.
Dani adalah seorang pemuda yang baru saja pindah kesebuah apartemen baru didaerah perkotaan, ia pindah karena ia tidak mendapatkan kedamaian dikediaman lamanya. Hal itu disebabkan oleh tetangganya yang suka bertengkar dan ribut saat ia tertidur. Walau ia mencoba untuk bersabar tetapi kesabaran seseorang bisa habis suatu saat, pada akhirnya ia memutuskan untuk pindah keluar kota. Tetapi ia tetap berpikiran bahwa kehidupan ditempat tinggal barunya malah akan membuatnya kerepotan, Dani adalah tipe orang yang tidak suka dengan hal-hal yang merepotkan. Karena ia tak mempunyai pilihan lain ia tetap pindah keluar kota untuk mencari kehidupan baru. Disamping mencari kehidupan baru ia juga berharap agar ia bisa menemukan seorang wanita yang akan memikat hatinya.
Kehidupan Dani yang baru dimulai pada suatu malam yang dipenuhi dengan hujan lebat dan petir yang menyambar dengan keras, sungguh sebuah malam yang mengerikan untuk memulai kehidupan ditempat lain. Ia turun dari taksi lalu ia membayar ongkos taksi itu sebesar 50.000 dan saat ia ingin menaiki tangga apartemen itu pengemudi taksi itu berkata “hei uangnya kurang! Semuanya 60.000!” Dani terdiam sejenak sambil merogok sakunya, tetapi ia tak menemukan uang didalam sakunya dan juga dompetnya. Karena ia tak mempunyai sebuah pilihan ia hendak pergi meninggalkan pengemudi taksi itu, tetapi ia sadar bahwa lari dari kenyataan takkan mengubah apapun “maaf, uang saya habis...” kemudian supir taksi itu menjawab “lain kali bawalah uang pas!” kata supir taksi itu dengan marah, ia meninggalkan Dani didepan apartemen itu. Setelah supir taksi itu pergi Dani mengangkat barang bawaannya keruang administrasi, ia melewati lorong tua yang gelap disana ia merasakan hal-hal aneh yang mengerikan tetapi ia tetap melangkahkan kakinya menuju keruang administrasi. Dani berkata “apartemen ini aneh, aku harap apartemen itu bukanlah apartemen yang berhatu.” Ia sampai diruang administrasi lalu ia memanggil petugas administrasi yang berada disana.
“Halo?! Apa
ada orang disini? Aku ingin mendapatkan kunci untuk kamar 05, namaku Dani” kata
Dani.
Sebuah
suara seorang wanita terdengar “iya? Tunggu sebentar ya?”
Seorang
wanita datang menjumpainya, ia mempunyai rambut berwarna kuning. Melihat wanita
itu menjumpainya lalu memberikan kunci kamarnya Dani terdiam sejenak lalu ia
memikirkan suatu hal yang lain. Tindakan Dani membuat wanita itu kebingungan
sekaligus ketakutan saat menghadapinya.
“Permisi ini
kunci kamarmu” kata wanita itu.
Dani
membalas “Eh... iya baiklah eh...”
Wanita itu
memperkanalkan dirinya “namaku Dinda... senang bertemu denganmu” ia tersenyum
pada Dani.
Secara tidak sengaja Dani juga ikut
tersenyum bersamanya, “apa ada yang salah?” tanya Dinda. “Ti-tidak, tidak
ada... baiklah aku akan pergi kekamarku”
jawab Dani sambil mengangkat barang bawaannya menuju kekamar nomor 05.
Setelah ia sampai didalam ia menyalakan televisi lalu mengangkat telepon yang
berdering didalam kamarnya “halo?” ia heran bagaimana bisa telepon yang berada
didalam apartemen bisa berdering dengan sendirinya. “Ini aku Vero, jika kau
ingin menghubungi penghuni kamar lain dengan telepon yang ada dikamarmu tekan
saja nomor 0567 lalu dua digit berikutnya lanjutkan saja dengan nomor kamarnya”
wanita lain yang tidak ia kenal berbicara dengan nada datar dan tanpa ekspresi
padanya. Ia mencatat nomor kamar “0567-nomor kamar” setelah ia selesai mencatat
ia tertidur sejenak untuk menghilangkan rasa capek. Kehidupan Dani ditempat
tinggal barunya akan dimulai, dan sebuah cerita yang tidak terduga akan terjadi
padanya.
Chapter 1: Pekerjaan Baru, Gadis Aneh, dan
Teman-teman Baru
Dani
terbangun dari tidurnya lalu ia melihat jam dinding dikamarnya, rupanya ia
bangun pukul 03.30 dan ia mendapatkan sebuah pesan suara dari kamar lain. “Hai
tetangga baru, namaku Andika aku harap kita bisa menjadi teman baik! Ya ini
mungkin aneh... seseorang menelponmu secara tiba-tiba, aku baru saja berbicara
dengan Dinda dan dia memberitahuku bahwa kau baru saja pindah kesini dan dia
juga bilang bahwa kau juga mempunyai sedikit masalah dengan tempat tinggal lamamu...
sampai jumpa dikantin ya?” panggilan suara dari Andika berakhir. Sekali lagi
Dani bertemu dengan orang yang tidak ia kenal. Ia memikirkan beberapa hal
sejenak, ia ingin mendapat sebuah pekerjaan yang mapan lalu sebuah ide muncul
dikepalanya. Ia memutuskan untuk bergabung dibagian administrasi bersama Dinda,
disamping itu ia juga ingin berada didekat Dinda untuk beberapa lalu menyatakan
cintanya. Saat ia sedang berimajinasi dengan liarnya tiba-tiba perutnya
berbunyi, ia kelaparan karena makanan persediaan yang ia bawa tidak enak ia
memutuskan untuk pergi kekantin.
“Tapi apakah
aku akan diterima ditempat itu ya?” tanya Dani pada dirinya sendiri.
Sambil
berjalan menuju kearah kantin dan mengikuti anak panah dengan petunjuk “kantin”
ia memikirkan berbagai hal dan berimajinasi dengan liarnya “apakah... apakah ia
mempunyai perasaan terhadapku? Ataukah ini hanya sebuah ilusi, sebuah mimpi
disiang bolong? Aku tidak bisa menyimpulkan hal itu sekarang.”
Akhirnya ia
sampai dikantin, disanalah ia bertemu dengan tiga orang pria yang terlihat asik
mengobrol, Dani mendekati mereka lalu ia berkata “bolehkah aku duduk disini?”
kemudian salah seorang pria dengan rambut pendek, tebal, dan lurus bertanya
“apakah kau Dani?” Dani terdiam sejenak. “Andika?” ia bertemu dengan orang yang
telah meninggalkan pesan suara ditelepon kamarnya. Melihat orang yang pertama
kali mengajaknya bicara ada didekatnya rasa malunya sedikit agak hilang. Ia
duduk dikursi kosong yang ada dikantin lalu Andika memperkenalkan teman-teman
mereka.
Andika
berkata “namanya Dani, ia baru pindah kemari... perkenalkan, mereka adalah
teman-temanku, walau wajah mereka sedikit tidak beruntung” ia agak menyindir
kedua temannya.
Salah
seorang teman Andika yang mempunyai tubuh agak kurus dengan wajah yang tampan
dan terlihat ramah berkata “oh, awas ya! Lain kali kalau kau makan disini lagi
takkan kuteraktir!”
Mendengar
perkataan temannya itu Andika berkata “baiklah, baik jangan seperti itu,
perkanalkan nama temanku ini adalah Anto, dia adalah orang yang ramah dan juga
pintar, harus kuakui dia mempunyai pikiran dan gerakan yang cepat, terutama
jika ia berlari.”
Dani menatap
teman Andika yang masih belum ia perkenalkan, orang itu tinggi, besar, berkulit
hitam, dan tatapan matanya menyeramkan tetapi wajahnya terlihat sangat menawan
“siapa dia?” tanya Dani.
Andika
kemudian berkata “manusia hitam ini? Namanya Adit.”
“Manusia
hitam?” tanya Dani.
“Sudahlah
itu memang kenyataan...” jawab Adit dengan wajah yang cemberut.
Setelah
berkenalan satu sama lain mereka bertiga memakan makanan mereka sementara Dani
hanya terdiam memandangi gadis yang melamun didekat jendela. Rambut panjangnya
yang berwarna putih berhasil menyita perhatian Dani untuk beberapa menit.
Melamunnya Dani berhasil membuat Adit, Anto, dan Andika kebingungan, mereka
mencoba untuk mencari tahu penyebab melamunnya Dani. Kemudian mereka menyadari
bahwa Dani menatap gadis yang duduk didekat jendela itu dengan tatapan yang
lekat. “Ada apa? Itu Vero, ia adalah gadis yang pendiam, ia seperti tak
mempunyai ekspresi didalam dirinya” kata Anto. Dani terdiam sejenak memikirkan
hal itu.
“Apa yang
ada didalam pikirannya?” tanya Dani.
“Kedua
orangtuanya menelantarkannya, entah karena apa” kata Andika.
Adit
menambahi “setahuku ia mempunyai sedikit gangguan kejiwaan, ia membutuhkan
bantuan dalam beberapa hal.”
“Hal seperti
apa?” tanya Dani.
Anto berkata
“misalnya saja seperti merawatnya dan mematiskan dirinya tidak melakukan
hal-hal yang akan melukai dirinya.”
Adit
menambahi “iya, orang yang berada dalam posisi sedang depresi memanglah orang
yang sulit untuk ditebak, atau mengendalikan dirinya.”
Karena ia
merasa sudah kenyang dan ingin pergi kekamarnya Dani memberikan ucapan
perpisahan lalu bersamaan dengan berdirinya Vero ia pergi meninggalkan kantin,
Vero mengikutinya dengan berlari. “Apa yang gadis itu lakukan?!” tanya Andika,
mereka bertiga merasa aneh dengan tingkah laku Vero yang mengejar Dani. Saat ia
melewati lorong menuju kekamarnya ia mendengar suara hentakkan kaki yang semakin
cepat, ia menoleh kebelakang lalu tiba-tiba Vero melompat dan menjatuhkannya.
Untuk sesaat Dani terdiam menyaksikan hal itu, tetapi secepatnya ia sadar dan
berteriak “apa yang kau lakukan?!” ia merasa tegang dan ketakutan.
Anto,
Andika, dan Adit melihat kejadian itu, mereka mencoba untuk memaklumi hal
tersebut karena Vero adalah seorang gadis yang mempunyai kelainan mental.
Mereka hanya mengira bahwa Vero hanya sedang berimajinasi. Seakan-akan tidak
ada apapun yang terjadi mereka kembali masuk kedalam kantin dan menghabiskan
makanan mereka. “Apa yang salah dengan pemuda itu?” tanya Andika pada kedua
temannya. Mereka bertiga langsung memperbincangkan masalah itu dengan serius.
Sementara
mereka bertiga sedang berbicara satu sama lain Dani mencoba untuk bertanya pada
Vero tentang alasan dirinya menjatuhkan Dani.
“Apa yang kau
inginkan? Kenapa kau menjatuhkanku?!” tanya Dani
Vero terdiam
untuk sesat, hal itu membuat Dani merasa aneh dan bersalah “he-hei... tidak,
maksudku adalah apa yang membuatmu menjatuhkanku? Apa kau terpeleset?” Dani
menyadari bahwa Vero mempunyai kelainan.
Vero menjawab
“karena kau mempunyai bau yang berbeda dari lainnya... kau mempunyai aroma dan
gaya yang berbeda itulah yang membuatku tertarik padamu.”
Karena ia
merasa aneh dan ketakutan dengan kata-kata Vero ia berkata “apa?! Apa
sebenarnya dirimu?! Kanibal?! Penyuka sesama jenis?! Apa?! Apa yang terjadi?!”
kata-kata Vero membuat Dani ketakutan.
“Kau akan
mengetahuinya sendiri...” Vero meninggalkan Dani yang masih terbaring diatas
tanah.
*Saat Dani
telah kembali kekamarnya*
Ia memakan
roti yang berada didalam kulkas lalu membuka jendelanya, ia melihat Vero yang
juga sedang membuka jendela kamarnya. Ternyata kamar mereka bersebelahan, Vero
tersenyum lalu menyapanya. Sekali lagi, Dani ikut tersenyum tetapi kali ini
tanpa alasan yang jelas. Entah karena senyuman Vero menarik atau karena ia
melihat orang yang menderita akhirnya tersenyum padanya. Ia melambaikan
tangannya tanpa sadar lalu ia berkata “kau sedang apa?” ia tersenyum lalu
tertawa. Vero menunjukkan vas bunga yang menggantung dijendelanya lalu ia
berkata “menyiram?” Dani menyadari bahwa kelainan mental Vero membuat kata-kata
yang Vero ucapkan menjadi tidak beraturan.
“Oh, kau
sedang menyiram bunga? Vero, tentang kejadian yang tadi aku minta maaf ya?”
kata Dani, ia menyebutkan nama Vero secara tidak sengaja.
“Nama? Vero?”
jawab Vero.
Dani mencoba
untuk mengartikan perkataan Vero lalu ia berkata “iya, orang-orang
memberitahukanku tentang dirimu.”
Vero menjawab
“orang-orang? Jangan, langsung saja.”
Dani mengetahui arti dari perkataan yang Vero
ucapkan, yang Vero maksud adalah bahwa jika ia ingin tahu tentang kehidupan
Vero ia harusnya menanyakan atau mencari tahunya langsung kepada Vero. Ia
memahami apa yang Vero rasakan selama lebih dari setahun. Karena ia juga pernah
berada diposisi yang sama, ia pindah karena ia bertujuan untuk menemukan pujaan
hati dan juga rumah baru yang ideal untuknya. Ia hanya merasa aneh dengan
perasaannya pada Vero, ia mencintai Dinda dan ia ingin mendapatkannya tetapi
saat Vero menatapnya hatinya seakan-akan mengikuti mata Vero. Mata yang
dipenuhi oleh derita dan juga kejujuran.Entah mengapa ia merasa bertanggung
jawab tentang Vero.
“Melamar
pekerjaan sebagai petugas adiministrasi ditempat ini mungkin adalah hal yang
baik” ujar Dani.
Akhirnya Dani memutuskan untuk melamar
pekerjaan sebagai petugas administrasi, ia pergi kekantor yang berada didekat
pintu keluar lalu ia memikirkan beberapa hal. Pertama, ia datang keapartemen
itu untuk memulai sebuah kehidupan yang baru dan mencari pekerjaan jadi ia akan
memulai pekerjaan barunya sebagai petugas adiministrasi diapartemen itu. Kedua,
selain datang untuk mencari pekerjaan ia juga ingin menemukan pujaan hatinya,
tetapi hal itu masih menjadi sebuah pertanyaan bagi Dani. Ia merasa ada yang
berbeda dengan Dinda, ia sadar bahwa ia menyukai Dinda tetapi ada sebuah
perasaan yang muncul saat Vero bertemu dengannya. Saat ia mengetahui kebenaran
tentang masa lalu Vero ia merasa iba dan tertarik dengan Vero, tetapi ia belum
bisa mengetahui apakah itu cinta atau bukan. Beberapa hal yang ada dibenaknya
terkadang bisa menjadi sangat liar, tetapi ia merasa bahwa hal itu diperlukan
untuk mengatasi masalah yang akan muncul dimasa depan.
“Eh Dani ada
apa kemari?” Dinda menyapa.
“Aku ingin
melamar pekerjaan sebagai seorang petugas disini...” ujar Dani.
Dinda duduk
dikursi yang ada didalam ruangannya “apa kau yakin? Jarang sekali ada orang
yang ingin melamar pekerjaan disini.”
“Aku tahu,
tetapi aku membutuhkan pekerjaan ini untuk suatu hal... ngomong-omong bolehkah
aku bertanya?” kata Dani.
“Tentu saja”
Dani bertanya
“apa kau mengenal seorang gadis bernama Vero? Apa yang terjadi padanya?”
tiba-tiba sebuah pemikiran untuk menanyakan Vero muncul.
Dinda
terdiam setelah mendengar hal itu, ia menghela napas panjang. Dari cara Dinda
menjawab pertanyaan Dani ia sudah tahu bahwa masa lalu Vero sangat pahit dan
buruk sehingga Dinda terdiam saat ditanya mengenai masa lalu Vero. “Maaf jika
aku mengatakannya padamu, aku hanya merasa...” Dani tak sempat menyelesaikan
kata-katanya karena ia merasa tidak enak dengan Dinda. “Jika aku mengatakannya
padamu berjanjilah, berjanjilah untuk tidak menyakitinya” kata Dinda. Walau
merasa tidak enak tetapi Dani menyetujuinya.
“Vero dulu
adalah seorang gadis remaja yang memilih untuk pindah keapartemen ini bersama
kedua orangtuanya untuk mencari kehidupan baru yang damai dan tenteram, ia
hampir sama sepertimu saat ia pertama kali datang disini” kata Dinda.
Dani berkata
“ia sepertiku?”
“Iya, ia
mudah sekali tersipu dan tersenyum jika melihat orang lain tersenyum...” kata
Dinda.
“Lalu apa yang
terjadi?” tanya Dani.
Dinda tidak
ingin menceritakan kelanjutannya, ia mengubah topik pembicaraan ketopik yang
lain. “Jadi, kapan kau mau memulai pekerjaan ini? Ada sebuah lowongan untukmu
sebagai penjaga... pada bulan ini kami membutuhkanmu dimalam hari apa kau ingin
memulainya malam ini?” tanya Dinda. “Tentu saja, lagipula pekerjaan sebagai
penjaga apartemen ini tidak akan menjadi pekerjaan yang sulit kan?” kata Dani. Mendengar
ucapannya Dinda tertawa lalu ia berkata “benarkah? Walau ada CCTV yang dipasang
untuk mengawasi beberapa lorong dan juga beberapa tempat khusus, tetapi resiko
menjadi enjaga ditempat ini sangatlah tinggi Dani.” “Heh benarkah itu?” tanya
Dani.
Dinda
memberikan beberapa berkas dan juga keterangan mengenai apartemen itu kepada
Dani “kau akan mengetahuinya saat kau sudah mulai bekerja... berkas-berkas ini
akan membantumu, semoga beruntung Dani, kau akan membutuhkannya.”